Lo pikir di metaverse kita bebas jadi apa aja? Avatar apapun, kan? Coba lo masuk ke platform sosial virtual populer. Liat sekeliling. Avatar dengan kostum default atau item gratis itu biasanya diam di pinggir. Sementara yang punya skin langka NFT atau wearable eksklusif dikeruminin, diajak ngobrol, diundang ke grup eksklusif.
Ini bukan kebetulan. Fashion avatar di 2026 udah nggak cuma soal gaya. Ini soal kasta. Di dunia yang katanya tanpa batas fisik, kita malah menciptakan kelas sosial virtual yang lebih kaku dan kejam dari realita.
Laporan Virtual Economy Review 2026 bilang, transaksi item fashion digital di platform metaverse utama mencapai $50 miliar tahun lalu. Yang menarik: 85% dari nilai itu datang dari item limited edition yang harganya setara mobil mewah. Ini bukan lagi belanja. Ini speculative social climbing.
Investigasi: Wearable Wealth dan Pressure yang Tak Terlihat
- Kasus “The Holographic Wings” yang Memecah Belah Komunitas: Di sebuah platform metaverse game, developer rilis sayap hologram dengan efek cahaya unik. Hanya 100 pasang yang dibuat, dijual lewat lelang. Harganya meledak sampai 5 ETH (sekitar Rp 200 juta saat itu). Pemiliknya otomatis jadi selebriti virtual. Mereka bikin klub privat, dan avatar “biasa” yang cuma pake item gratis atau murah ngerasa di-exclude dari event-event penting di dalam game. Item NFT langka ini jadi lebih dari sekadar aksesori. Itu jadi tiket masuk ke lingkaran sosial yang lebih tinggi. Di dunia nyata, lo bisa pake kaos oblong tapi tetep dihormatin. Di metaverse, data wallet lo yang bicara.
- “Pressure untuk Flex” dan Budaya Konsumsi Tak Berwujud: Lo ikut virtual concert. Semua orang pake outfit matching theme yang dirilis khusus event, harganya Rp 500.000 buat paketan digital. Lo nggak beli. Avatar lo pake baju biasa. Rasanya? Seperti datang ke pesta dengan piyama. Padahal cuma kode di server. Tapi pressure sosial di metaverse ini nyata bikin orang merasa harus ikut beli, biar nggak kelihatan “miskin” atau “kuper”. Uang betulan dikeluarin untuk barang yang nggak bisa disentuh, cuma buat dapat pengakuan di ruang chat.
- Kesenjangan Estetika: Ketika Avatar “Grajakan” Jadi Bahan Bully: Di dunia nyata, kita bisa nebak kelas sosial seseorang tapi nggak 100% akurat. Di metaverse, semuanya terukur dan transparan. Harga setiap item terpampang di marketplace. Avatar dengan outfit hasil grinding gratis atau beli murah sering dicap “noob” atau “poor”. Mereka bisa di-bully di chat global, diremehin, bahkan nggak diajak kerja sama dalam quest. Kesenjangan digital yang tadinya cuma soal akses internet, sekarang jadi kesenjangan estetika virtual yang memalukan. Lo bisa kaya raya di dunia nyata, tapi di metaverse lo tetap “wibu miskin” kalau nggak mau beli skin mahal.
Jadi, kita harus ikut arus dan habisin uang buat baju digital? Tunggu dulu.
Common Mistakes Pengguna Metaverse:
- Mengikuti Setiap “Drop” dan Terjebak Fear of Missing Out (FOMO): Nggak semua item limited edition itu investasi bagus. Banyak yang harganya jatuh setelah hype-nya selesai. Lo bayar mahal cuma buat status sesaat, lalu terjebak dengan aset digital yang nggak likuid.
- Mengabaikan Komunitas yang Fokus pada Konten, Bukan Flexing: Banyak grup atau platform kecil yang justru lebih fokus pada koneksi dan aktivitas, bukan pada penampilan avatar. Lo malah nggak cari-cari komunitas kayak gitu karena terlalu sibuk berkutat di “mainstream metaverse” yang penuh tekanan.
- Berpikir “Ini Cuma Game” dan Mengabaikan Dampak Psikologisnya: Dianggap remeh di dunia virtual selama berjam-jam bisa bawa perasaan loh. Rasanya nyata. Jangan anggap enteng perasaan terisolasi atau direndahkan di ruang digital, karena efeknya ke mental itu betulan.
Tips Praktis Menghadapi Tekanan Fashion di Metaverse:
- Cari Platform atau Server dengan Kode Etik “No Flexing” atau “All Welcome”: Beberapa komunitas virtual punya aturan ketat soal bully berdasarkan penampilan avatar. Cari dan dukung tempat-tempat seperti itu. Itu akan jadi safe haven lo.
- Investasi pada “Skill” atau “Reputasi”, Bukan Hanya pada “Wardrobe”: Jadilah ahli dalam sesuatu di metaverse itu—builder yang handal, event organizer yang kreatif, moderator yang disegani. Reputasi sebagai orang yang berkontribusi akan jauh lebih bernilai dan dihormati daripada sekadar jaket NFT termahal. Orang akan ingat nama dan karya lo, bukan outfit lo.
- Pisahkan “Dana Hiburan” dan “Dana Investasi Digital”: Kalau mau beli skin buat seneng-seneng, anggap itu uang hangus seperti bayar tiket bioskop. Jangan berharap cuan. Kalau mau investasi serius di NFT wearable, riset dulu seperti riset saham—lihat tim developer, utility-nya, komunitasnya. Jangan campur adukkan dua tujuan ini.
Kode pakaian di Metaverse membuktikan satu hal: kita nggak bisa lari dari naluri manusiawi untuk mengelompokkan dan menunjukkan status. Bahkan di dunia yang sepenuhnya kita ciptakan.
Tapi kita punya pilihan: mau ikut permainan itu dan membiarkan dompet digital kita jadi penentu harga diri, atau membangun nilai kita dari hal lain yang nggak bisa dibeli algoritma—kreativitas, keramahan, keahlian.
Pilihannya ada di tangan—atau lebih tepatnya, di mouse—kita. Mau jadi apa di dunia tanpa batas ini? Tuan tanah digital, atau tetangga yang asik diajak ngobrol?
