Fashion Biosintetik: Pakaian 'Hidup' yang Membersihkan Udara dan Memulihkan Diri dari Robekan Kecil
Uncategorized

Fashion Biosintetik: Pakaian ‘Hidup’ yang Membersihkan Udara dan Memulihkan Diri dari Robekan Kecil

Kaos Ini Robek, Lalu Menyembuhkan Diri Sendiri di Lemari. Gila Nggak Sih?

Gue liat video di Instagram. Seorang peneliti di lab nyilet kain dengan cutter. Lalu dia semprotin sesuatu. Dalam 24 jam, sobekannya nggak ada lagi. Kainnya utuh lagi. Bukan sulap. Itu fashion biosintetik. Dan pikiran gue langsung melayang: gimana kalau celana jeans favorit yang sobek sedikit di lutut bisa nutup sendiri? Atau kaos yang kita pake bisa nyedot polusi udara kayak tanaman?

Kedengarannya kayak fiksi ilmiah. Tapi itu bener-bener lagi dikerjain di lab-lab sekarang. Pertanyaan besarnya: kapan kita bisa beli dan pake baju kayak gitu di toko? Atau cuma bakal jadi prototype keren yang nggak pernah nyampe ke tangan kita?

Tiga Prototype yang Bikin Ngiler, Tapi…

Contoh pertama yang udah ada: Kain dengan Mikroalga Terenkapsulasi. Ada startup namanya Post Carbon Fashion (fiksi, tapi realistis). Mereka bikin jaket yang permukaannya dilapisi hydrogel berisi mikroalga hidup. Selagi kita pake dan jalan-jalan di kota, alganya ‘bernapas’, menyerap CO2 dan melepaskan oksigen. Klaim mereka, satu jaket bisa seefektif satu pohon muda. Keren banget kan? Tapi coba liat kenyataannya: mikroalga butuh cahaya dan kelembapan buat hidup. Kalau jaketnya masuk lemari gelap seminggu, alganya mati. Dan kita beli lagi cartridge hydrogel-nya? Itu masalahnya. Dia masih jadi produk konsumsi, bukan solusi mandiri.

Lalu ada Tekstil dengan Bakteri yang Memperbaiki Diri (Self-Healing). Ini yang bikin gue terpesona. Ilmuwan nemu cara menyisipkan bakteri Bacillus subtilis ke dalam benang. Bakteri ini tidur selama kain utuh. Tapi kalau kain sobek dan kena kelembapan (misal, kena keringat atau hujan), bakteri itu ‘bangun’ dan mulai memproduksi semacam ‘lem’ biologi yang menyambung kembali serat yang putus. Dalam uji lab, robekan kecil bisa hilang dalam 48 jam. Tapi coba bayangin cuci baju ini. Apa bakterinya mati kalo kena deterjen? Atau malah tumbuh liar? Regulasi kesehatan dan kebersihannya aja belum ada.

Yang ketiga, Benang dari Protein Laba-Laba Sintetis. Material ini lebih kuat dari baja, elastis, dan bisa terurai. Beberapa brand udah bikin prototype dress-nya. Tapi buat bikin proteinnya dalam skala besar, mereka harus fermentasi ragi yang direkayasa genetika. Prosesnya mahal banget. Harganya? Satu dress bisa mencapai Rp 50 juta. Jadi ya, untuk runway show artis. Bukan buat kita yang kaosnya kena kuah soto.

Salah Paham yang Bikin Kita Kecewa

Makanya, sebelum kita terlalu excited, hati-hati sama beberapa hal:

  1. Menyamakan “Proof of Concept” dengan “Produk Siap Pakai”. Yang kita liat di video TEDTalk atau Instagram itu seringkali cuma proof of concept. Itu bekerja di lingkungan lab yang steril dan terkontrol. Tantangan terbesarnya adalah bikin itu semua bekerja di dunia nyata: kena hujan, keringetan, dicuci, dilipat, dan masih tetap awet dan berfungsi.
  2. Mengabaikan Biaya Perawatan yang Ribet. Baju ‘hidup’ mungkin butuh perawatan khusus. Harus disimpan di tempat tertentu, kena cahaya tertentu, dicuci dengan sabun khusus. Kalau nggak, fungsinya mati. Itu nambah mental load kita, bukan ngurangin.
  3. Terlalu Fokus pada “Fitur Wow”, Lupa Kenyamanan Dasar. Bisa nyedot polusi, ok. Tapi kalau teksturnya kayak plastik panas dan gatal di kulit, mau pake seharian nggak sih? Fashion pertama-tama harus nyaman dipakai.

Gimana Menyikapi Gelombang Fashion Biosintetik yang Akan Datang?

Jadi, sebagai early adopter yang peduli, apa yang bisa kita lakukan? Nggak usah skeptis, tapi juga jangan polos.

  • Cari Brand yang Transparan Soal Batasannya. Brand yang bagus akan jujur. Mereka akan bilang, “Produk kami bisa menyerap polusi, tapi efektifitasnya akan menurun setelah 20 kali cuci,” atau, “Bahan ini memperbaiki diri, tapi hanya pada robekan di bawah 2 cm.” Itu lebih kredibel daripada janji muluk.
  • Utamakan Durability di Atas Gimmick. Fitur ‘wow’ itu bonus. Tanya dulu: apakah bahan ini kuat? Apakah bisa dicuci biasa? Apakah warnanya luntur? Kalau sebuah kaos bisa sembuh sendiri tapi cuma bertahan 10 kali cuci, ya percuma.
  • Dukung dengan Membeli Koleksi ‘Kapsul’ Pertama Mereka. Kalau kamu memang passionate dan punya budget, beli lah koleksi awal atau limited edition-nya. Umpan balik dari early adopter seperti kamu sangat berharga bagi brand untuk berkembang. Tapi beli dengan ekspektasi realistis: kamu sedang mendanai riset, bukan membeli produk sempurna.
  • Perhatikan Siklus Hidup Akhir (End-of-Life). Tanyakan juga: kalau bakteri atau alga di baju ini mati, apakah materialnya bisa didaur ulang atau dikompos? Atau malah jadi sampah elektronik versi tekstil? Teknologi hijau harus hijau dari buaian sampai ke liang lahat.

Kesimpulan: Kita Sedang Menonton Evolusi, Bukan Revolusi Instan

Fashion biosintetik itu bukan revolusi yang akan mengubah lemari kita dalam satu malam. Ini adalah evolusi yang lambat. Kita sedang menyaksikan detik-detik awal dimana biologi dan fashion mulai berpegangan tangan.

Prototype di lab hari ini adalah janji untuk besok. Tapi antara lab dan rak toko, ada jurang lebar yang namanya produksi massal, keterjangkauan, regulasi, dan penerimaan konsumen.

Jadi, nikmatilah ide-idenya. Kagumi inovasinya. Tapi tunggulah dengan sabar. Karena baju masa depan yang benar-benar hebat bukan cuma yang bisa menyembuhkan diri sendiri, tapi yang bisa bertahan dalam ujian kehidupan nyata—dan akhirnya, membuat kehidupan nyata itu sedikit lebih baik.

Anda mungkin juga suka...