Dari Jelly Girl ke Sepatu Bola: 5 Tren Fashion TikTok yang Lagi Menggila di 2026
Uncategorized

Dari Jelly Girl ke Sepatu Bola: 5 Tren Fashion TikTok yang Lagi Menggila di 2026

Pernah nggak sih ngerasa, fashion sekarang tuh kayak naik rollercoaster gitu. Sebelum sempet bener-bener ngejalanin satu gaya, udah muncul tren baru lagi di FYP. Tapi coba perhatiin lebih deket, ada yang menarik dari tren fashion TikTok 2026. Mereka nggak cuma soal “pakaian apa yang lagi hits”, tapi juga soal gimana kita ngejalanin hidup dan gimana kita nampilin diri ke dunia. Ini bukan cuma fashion—ini bahasa visual, ini psikologi, ini bahkan strategi bertahan hidup di era yang serba cepat.

Gue penasaran banget, kenapa sih beberapa tren bisa “meletup” dan bertahan, sementara yang lain cuma jadi flash in the pan? Ada pola yang ternyata bisa kita baca. Yuk, kita bedah lima tren yang lagi dominan dan gimana strategi di balik viralnya mereka.


1. Jelly Girl Summer: Nostalgia yang Nggak Sembarangan

Kita mulai dari yang paling playful dulu: Jelly Girl. Tren ini bikin sandal plastik warna-warni yang dulu kita pake pas SD naik kelas jadi barang fashion incaran. Dari PVC transparan, fisherman sandals, sampe kitten heels—semuanya dibikin dari bahan licin nan mengkilap yang dulu cuma kita temuin di toko mainan .

Jelly shoes ini udah diadopsi sama brand kayak Melissa, Jacquemus, sampe Chloé . Bahkan ada yang disebut “jelly firkin”—tas tembus pandang yang bentuknya kayak Birkin—yang langsung viral di TikTok gara-gara unboxing dan styling posts yang banjir di feed .

Psikologi di baliknya: Kenapa jelly shoes bisa seviral ini? Jawabannya ada di nostalgia dan playfulness. Fashion psychologist Dion Terrelonge bilang, “When life feels unstable, we are drawn to nostalgia, simplicity and traditionalism. It activates our sense of control” . Di tengah dunia yang serius dan penuh tekanan, jelly girl summer ngasih kita pelarian ke masa kecil yang lebih simpel. Apalagi setelah bertahun-tahun quiet luxury dengan palet warna yang muted, jelly-core ini hadir sebagai ledakan warna yang menyegarkan .

Selain itu, ada elemen tactile satisfaction. Bahan PVC yang mengkilap dan sedikit “squeaky” itu ngasih sensasi yang beda—ini bukan cuma soal penampilan, tapi soal pengalaman . Dan yang menarik, tren ini nggak cuma di kalangan Gen Z yang nostalgia, tapi juga milenial yang inget banget pake sepatu plastik warna-warni pas liburan ke pantai .

Bahasa visualnya: Jelly Girl bicara tentang playfulness, nostalgia, dan pemberontakan terhadap keseriusan. Ini adalah visual yang “nyala” di tengah dominasi warna netral di mana-mana.


2. #BootsOnlySummer: Dari Lapangan ke Catwalk

Nah, ini tren yang paling kontroversial dan mengejutkan: sepatu bola jadi streetwear. Tagar #BootsOnlySummer pertama kali naik di TikTok lewat konten orang-orang yang pake sepatu bola buat gaya kasual—cewek pakai rok mini sama Nike Mercurial, cowok pakai Adidas F50 dipadu sama jorts dan kaus oversized . Aneh? Justru di situ letak kerennya.

Tren ini makin gila di 2026 jelang Piala Dunia. Nike bahkan ngerilis lini Cryoshot yang membungkus stud sepatu bola dalam outsole TPU transparan—jadi stud-nya masih keliatan kayak dibekukan dalam es . Kolaborasi gede juga terjadi, kayak Stone Island x New Balance yang merilis koleksi kapsul bertema sepak bola buat Summer 2026 .

Bahkan designer Ancuta Sarca bikin ulang sepatu bola Nike jadi slingback heels dan knee-high boots—katanya sih buat Rihanna!  Koleksi limited edition ini langsung kebanjiran 20 ribu likes di Instagram .

Psikologi di baliknya: Ini bukan cuma soal fashion, tapi soal cultural capital. Pakai sepatu bola di jalanan ngirim sinyal: “Saya paham budaya sepak bola, saya paham streetwear, dan saya berani menggabungkan dua dunia yang biasanya nggak nyambung” . Ini bentuk high-low mixing yang lagi digandrungi Gen Z—menggabungkan elemen yang dulu dianggap “rendah” (sepatu olahraga) dengan “tinggi” (streetwear) buat nyiptain statement baru .

Selain itu, ada sentuhan nostalgia di sini. Buat yang dulu kecilnya main bola sore-sore di gang, sepatu bola sekarang jadi cara buat ngerasa terhubung sama masa lalu, tapi dibalut gaya modern yang anti-mainstream .

Tapi ada yang perlu diinget: nggak semua sepatu bola nyaman dipakai di aspal. Brand-brand sekarang mulai bikin versi lifestyle yang dimodifikasi sol datar atau midsole empuk biar nyaman . Nike juga pake teknologi TPU buat ngebungkus stud-nya . Jadi sebelum ikutan tren, pastiin sepatu yang kamu pake emang nyaman buat jalan.

Bahasa visualnya: #BootsOnlySummer bicara tentang keberanian, keunikan, dan subkultur. Ini adalah visual yang “nyentak”—nggak biasa, sedikit absurd, tapi justru itu yang bikin orang nengok .


3. Low-Energy Dressing: Saat “Malas” Jadi Gaya Hidup

Nah, ini tren yang lagi naik daun banget di 2026, bahkan jadi salah satu gaya paling dominan di TikTok Low-energy dressing adalah kebalikan dari performatif fashion—ini tentang simplicity, soft silhouettes, quiet colors, dan unfussy basics .

Psikologi di baliknya: Ini bukan cuma soal fashion, tapi soal survival. Fashion psychologist Dr. Dion Terrelonge bilang, “Life right now is incredibly energy-zapping… Low-energy dressing gives people a sense of simplicity and stability” . Kita lagi hidup di tengah banjir informasi, krisis eksistensial, dan algoritma yang nggak pernah berhenti. Memilih pakaian sederhana adalah coping mechanism—cara kita mengurangi beban kognitif dan ngasih diri kita sedikit kendali di tengah chaos .

Kate Nightingale, consumer psychologist, nambahin: “When life feels unstable, we are drawn to nostalgia, simplicity and traditionalism. It activates our sense of control” . Ini juga terkait sama enclothed cognition—efek psikologis di mana pakaian mempengaruhi cara kita berpikir dan merasa. Kalau kita asosiasikan pakaian kita dengan kenyamanan dan ketenangan, kita bakal ngerasa lebih tenang .

Tapi ada ironi di sini: looking effortless often requires effort . Shakaila Forbes-Bell, fashion psychologist, ngasih perspektif: “Minimalism is now tied to wealth. Bright colours and partywear became associated with low-quality fast fashion. So simplicity has become a signifier of refinement” . Jadi low-energy dressing sebenernya juga soal class signaling—tampil sederhana tapi punya makna.

Nightingale ngingetin: “It began as a coping mechanism, but anything that becomes popular risks becoming a new form of pressure” . Jadi hati-hati, jangan sampai slow living malah jadi aesthetic pressure baru.

Bahasa visualnya: Low-energy dressing bicara tentang ketenangan, kontrol, dan “saya nggak perlu buktiin apa-apa”. Ini visual yang grounding—ngga teriak, tapi justru ngasih rasa aman.


4. Lace Layering: Renda yang Nggak Manis-manis Amat

Tren keempat yang lagi naik adalah lace layering atau kain renda yang dipakai dengan cara nggak biasa. Dulu kain renda identik dengan tampilan formal dan feminin yang serba rapi. Tapi di 2026, Gen Z justru ngebawanya ke arah yang lebih ekspresif .

Cara pakainya? Rok berenda ditumpuk di atas celana panjang (layering lace dress), dipadu sama kaus longgar, jaket denim, atau bahkan jas informal . Intinya, renda nggak lagi jadi item utama yang mendominasi, tapi jadi aksen yang ngasih karakter pada busana harian . Satu detail renda bisa bikin tampilan sederhana terasa lebih berkesan .

Psikologi di baliknya: Ini soal mixing contradictions. Renda yang biasanya melambangkan kelembutan dan femininitas, sekarang dipadukan dengan elemen kasual dan maskulin—kaos longgar, celana baggy, blazer . Kontras inilah yang bikin tren ini menarik. Ini bentuk gender bending dan pemberontakan terhadap norma—kamu bisa feminin tanpa harus keliatan manis.

Brand lokal kayak MORNINGSOL sama COLORBOX udah mulai ngerilis produk yang mendukung tren ini, dari asymetrical lace skort sampe long sleeve lace cardigan . Shopee bahkan melihat peningkatan minat yang signifikan terhadap produk-produk ini .

Bahasa visualnya: Lace layering bicara tentang kompleksitas, kontras, dan keberanian. Ini visual yang “nggak gampang ditebak”—kamu kira feminin, tapi ternyata ada edge-nya.


5. Baggy & Barrel Jeans: Nyaman Itu Prioritas

Tren kelima ini lebih mainstream tapi nggak kalah kuat: baggy jeans dan barrel pants. Pakaian longgar yang terinspirasi dari skena budaya hip hop ini lagi digandrungi Gen Z karena dinilai selaras sama keseharian—ingin bergaya tapi tetap nyaman .

Shopee Indonesia melaporkan peningkatan minat signifikan terhadap siluet ini . Baggy jeans jadi bagian dari ekspresi diri sekaligus keinginan untuk keluar dari standar berpakaian terlalu rapi atau mainstream . Sementara barrel pants hadir dengan siluet yang lebih sculptural—melebar di area paha lalu menyempit di kaki .

Psikologi di baliknya: Ini soal comfort as priority. Setelah bertahun-tahun skinny jeans yang ketat dan nggak nyaman, Gen Z milih celana yang ngasih ruang gerak. Ini juga tentang rejection of perfection—celana longgar ngirim sinyal: “Saya nggak perlu keliatan sempurna, saya cuma mau nyaman” .

Tips styling dari Shopee: seimbangkan celana longgar dengan atasan yang lebih fitted (tank top, ribbed knit), atau kalau mau lebih santai, pakai oversized shirt dengan trik “tucked in” biar nggak keliatan tenggelam . Aksesoris kayak sneakers, loafers, atau flatshoes juga bisa jadi pelengkap .

Bahasa visualnya: Baggy & barrel jeans bicara tentang comfort, street credibility, dan rebellion against formality. Ini visual yang “santai tapi punya attitude”.


3 Kesalahan Fatal Saat Mengikuti Tren Fashion TikTok

  1. Cuma Ikut-ikutan Tanpa Paham Konteks: Jelly girl punya sejarah panjang—dari sepatu plastik anak-anak sampai ke panggung runway . Sepatu bola punya akar di budaya sepak bola dan subkultur Casuals . Kalau cuma ikut-ikutan tanpa paham, kamu bisa kehilangan esensi dan malah keliatan nggak autentik.
  2. Terjebak FOMO dan Perilaku Konsumtif: Tren berganti setiap minggu di TikTok. Jangan beli cuma karena viral—pikirkan apakah item itu beneran cocok sama gaya hidup dan identitas kamu. Low-energy dressing viral karena orang capek sama konsumerisme, tapi ironisnya beberapa orang malah jadi konsumtif demi estetika “simpel” .
  3. Mengorbankan Kenyamanan demi Estetika: #BootsOnlySummer itu keren, tapi kalau sepatu bolamu masih pake stud asli, siap-siap kaki pegel dan kepleset di trotoar . Cari versi lifestyle yang udah dimodifikasi. Low-energy dressing juga tentang kenyamanan—kalau kamu malah stres mikirin “gaya rendah energi”, itu udah kehilangan maknanya .

Tips Praktis: Jadi Lebih dari Sekadar “Pengikut Tren”

  1. Pahami “Mengapa” di Balik Tren: Sebelum beli sandal jelly atau sepatu bola, tanya: “Kenapa tren ini viral?” Dengan paham konteksnya, kamu nggak cuma ikut-ikutan tapi beneran ngerti bahasa visualnya.
  2. Kombinasikan dengan Identitas Pribadi: Fashion FYP TikTok makin personal. Jangan takut mix-and-match tren dengan gaya kamu sendiri. Ciri khas itu lebih berharga daripada sekadar mengikuti template.
  3. Beli dengan Bijak: Tren kayak low-energy dressing dan sustainable fashion lagi naik daun. Pilih item yang benar-benar bisa dipakai berulang kali, bukan cuma buat satu konten TikTok. Kain renda yang bisa dilayering atau baggy jeans yang cocok buat berbagai acara itu investasi jangka panjang .

Kesimpulan: Tren Viral Adalah Cermin Zaman

Jadi, apa yang sebenernya terjadi? Tren fashion TikTok yang lagi menggila di 2026—dari Jelly Girl, #BootsOnlySummer, Low-Energy Dressing, Lace Layering, sampe Baggy Jeans—bukan cuma soal estetika. Ini adalah response kolektif terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan psikologis kita.

Jelly Girl adalah pelarian ke masa kecil yang lebih simpel di tengah dunia yang berat . #BootsOnlySummer adalah statement keberanian dan identitas subkultur . Low-Energy Dressing adalah coping mechanism melawan kelelahan dan overstimulasi . Lace Layering adalah pemberontakan terhadap norma gender dan femininitas kaku . Dan Baggy Jeans adalah prioritas kenyamanan di atas kesempurnaan .

Fashion adalah bahasa. Dan bahasa itu selalu berubah mengikuti siapa yang memakainya dan zaman apa yang sedang dijalani. Di 2026, tren nggak lagi datang dari runway—mereka lahir dari FYP, dari scroll, dari algoritma yang mengulang-ulang satu warna sampai nggak terasa “ini memang sedang in” . Jadi, daripada cuma ikut-ikutan, yuk kita pahami apa yang sebenernya kita katakan lewat pilihan fashion kita. Karena di 2026, gaya bukan cuma soal penampilan—ini soal siapa kita dan bagaimana kita menghadapi dunia.

Anda mungkin juga suka...